Jan 26

MA Hidayatullah Depok

  1. A. Sejarah Berdirinya

Madrasah Aliyah (MA) Integral Hidayatulah adalah lembaga pendidikan formal setingkat SMA yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, berafiliasi ke Departemen Agama Kota Depok, dan merupakan salah satu dari 24 Madrasah Aliyah di Kota Depok yang semuanya adalah sekolah/Madrasah Swasta. Pada awal berdirinya, Madrasah Aliyah Hidayatullah berada di Wilayah Kabupaten Bogor tepatnya di daerah Cilember Cisarua Bogor, beroperasi pada tahun pelajaran 2000/2001. Kemudian, seiring perpindahan lokasi dan pengurus Pesantren Hidayatullah Bogor ke Pesantren Hidayatullah Depok, maka berpindah pula seluruh siswa dan guru Madrasah Aliyah Hidayatullah ke Depok pada tahun pelajaran 2002/2003. Baca kelanjutan entri ini »

Video

Video

Jan 26

Video Edukasi

IMG0437A

Jan 26

Pembelajaran Yang Integral dan Islami

  1. Model Pembelajaran Matematika yang Integral dan Islami

Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, MA Integral Hidayatullah berusaha agar semua proses pembelajaran yang dilakukan, sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam. Hal ini sejalan juga dengan konsep pendidikan yang telah disusun dan menjadi acuan sekolah/madrasah Hidayatullah seluruh Indonesia, yaitu Pendidikan Integral Berbasis Tauhid. Pendidikan Integral yang dimaksud adalah suatu system pendidikan yang memadukan intelektual, moral,dan spiritual. Lebih lengkapnya, bahwa konsep Pendidikan Intergal yang diusung Hidayatullah mengandung makna sebagai berikut:

  1. Memadukan modus pendidikan di keluarga dan masyarakat dalam sebuah lingkungan buatan yaitu sekolah/madrasah/pondok. Sekolah/madrasah dijadikan sebagai miniatur lingkungan Islami dengan system fullday dan boarding school.
  2. Memadukan  ranah belajar afeksi, kognisi dan psikomotorik.
  3. Memadukan “pendidikan umum  dan pendidikan agama” (seperti yang dipersepsikan masyarakat selama ini).
  4. Memadukan modus pendidikan di  sekolah dengan masjid dan asrama.
  5. Memadukan proses penguasaan ilmu kehidupan (iptek dan keterampilan) dengan tsaqofah dan pembentukan syakhshiyyah Islamiyyah.[1]

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan berbasis Tauhid dalam konsep pendidikan Hidayatullah adalah suatu program pendidikan yang mengintegrasikan unsur dan komponen pendidikan menjadi satu kesatuan yang utuh, tidak parsial, dan tidak ada dikotomi, berdasarkan pada nilai-nilai Islam.[2] Dengan demikian, nilai-nilai Islam menjadi inklusif dan terintegrasi dalam kurikulum dan pembelajaran di MA Integral Hidayatullah.

Pembelajaran yang ideal menurut konsep ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an adalah pembelajaran yang memadukan dan menyatukan antara nilai-nilai keimanan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Istilah populernya keseimbangan antara IMTAK dan IPTEK. Istilah ini konsepnya telah lama terdengar, tapi konteksnya masih jarang dilihat. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Mujadilah:11

 Artinya: “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[3]

Berdasarkan ayat di atas, dengan tegas Allah SWT menjanjikan kepada seseorang akan diangkat derajatnya, kehormatannya atau kemuliaannya, bila orang tersebut memiliki iman yang kuat dan ilmu pengetahuan yang hebat. Bahkan menurut ayat di atas, nilai keimanan merupakan prioritas utama sebelum ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Hidayatullah, seorang guru mengkolaborasikan nilai-nilai keimanan dengan ilmu pengetahuan, agar siswa sampai pada penyadaran bahwa semua ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah milik Allah SWT, hanya Allah SWT yang Maha Kuasa,Yang menciptakan semua yang ada di bumi dan yang ada di langit. Dengan demikian, maka guru sudah menerapkan model pembelajaran yang integral dan Islami.[4]

Pendekatan, strategi, dan model pembelajaran bernuansa Islam sedikit sekali dikemukakan oleh para ahli pendidikan baik pendidikan umum maupun pendidikan Islam, apalagi dalam pembelajaran matematika. Sehingga peneliti merasa kesulitan mencari bahan rujukan dalam penelitian ini. Akan tetapi, peneliti meyakini bahwa model pembelajaran secara umum yang telah dikemukakan para ahli pendidikan, sebenarnya bisa saja dilakukan pada pembelajaran matematika, tergantung bagaimana guru mengelaborasinya. Pembelajaran integral/terpadu, diyakini peneliti sebagai model yang sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran matematika.

Pembelajaran integral dapat dikolaborasikan dengan pembelajaran Islami dalam pembelajaran matematika, hal ini sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa dalam Al-Qur’an Allah telah menjadikan orang beriman dan berilmu lebih tinggi derajatnya.

Menurut Yasri,pembelajaran matematikadapatdilakukan dengan memaparkan beberapa strategi pembelajaran yang dikaitkan dengan penanaman nilai-nilai ajaran islam yaitu dengan cara: selalu menyebut nama Allah, penggunaan istilah islam, ilustrasi visual, aplikasi atau contoh-contoh, menyisipkan ayat atau hadits, penelusuran sejarah, jaringan topik, symbol ayat kauniyah.[5]

Adapun penerapan, aplikasi, dan penjabaran pembelajaran yang integral dan Islami di MA Integral Hidayatullah adalah sebagai berikut:

1.      Selalu menyebut nama Allah

Dalam sebuah kelas, peneliti mendengar dan menyaksikan sepenggal dialog antara siswa dengan guru sebagai berikut:[6]

Guru    : “Anak-anak, mari kita buka dan awali pembelajaran ini dengan membaca

basmallah…!

Siswa   : “Bismillaahirrahmaanirrahiim,,,,,!”

Guru    : “Pada pertemuan kali ini anda akan mempelajari tentang logaritma, apakah

kalian sudah pernah mendengar kata logaritma?”

Siswa   : “Belum, ustadz,,,!

Guru    : “Kalau begitu, silahkan dibuka bukunya hal 43, Imron coba kamu baca,,!”

Siswa   : “Baik ustadz,,,!”

Salah seorang siswa membaca materi logaritma pada buku paket, diawali dengan sejarah logaritma.

Guru    : “Stop, Imron,,! dari bacaan tadi, siapa penemu logaritma?”

Siswa   : “Al-Khawarizmi,,,,”

Guru    : “Siapakah Al-Khawarizmi itu?”

Siswa   : “Seorang ilmuwan muslim, ustadz!”

Guru    : “Subhanallah,,,,! Ternyata penemu logaraitma adalah seorang muslim, berarti kita wajib memelihara dan menjaga ilmu ini, bagaimana cara menjaga ilmu logaritma, Holil?”

Siswa   : “Dengan cara mempelajarinya, ustadz!”

Guru    : “Alhamdulillah,,, ternyata anda sudah faham tugas anda, kalau begitu mari kita lanjutkan pembelajaran kita tentang logaritma!”

Itulah sepenggal dialog yang terjadi di dalam kelas pada saat pembelajaran matematika. Sebelum pembelajaran dimulai, guru selalu menunjuk siswa meminpin do’a dan mengawali pembelajaran dengan membaca Basmallah. Bahkan terkadang dijumpai di beberapa RPP yang memuat secara tertulis penyebutan/pengucapan Basmallah dan membaca doa belajar. Kemudian pada setiap tahap demi tahap dalam penyelesaian permasalahan matematika, guru juga selalu melafadzkan Subhanallah, serta ketika mengakhiri kegiatan pembelajaran guru menunjuk siswa menutup secara bersama-sama dengan mengucapkan Hamdallah. Guru di MA Integral Hidayatullah selalu mengingatkan kepada peserta didik betapa pentingnya kita selalu ingat dan mengatasnamakan Allah dalam segala aktivitas dan bersyukur kepada Allah, apalagi ketika sedang menggali ilmu-Nya Allah.

  1. 2.      Penggunaan Istilah Islam

Di kelas XI, guru matematika sedang membahas tentang materi peluang, terlihat siswa sedang melakukan diskusi kelompok membahas soal yang ada di buku paket.[7] Kemudian guru meminta salah satu kelompok mengemukakan hasil yang sudah dikerjakan: “Baik,, silahkan kelompok Umar untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya, kelompok Usman, Abu Bakar, dan Ali menyimak hasil kerja kelompok Umar..!”. Kemudian kelmpok Umar memaparkan hasil kerja kelompoknya, “dari hasil perhitungan kelompok Umar, diantara 4 orang calon ketua Rohis yaitu Husen, Heri, Ahmad, dan Taufiq, maka peluang Taufiq menjadi ketua Rohis adalah 0,25”.

Istilah dalam matematika sangat banyak. Diantara istilah tersebut guru menggunakan istilah dalam ajaran Islam, antara lain : penggunaan nama, peristiwa atau benda yang bernuansa Islam. Misalnya, guru matematika selalu menggunakan nama islami (Ahmad, Fatimah, Khodijah, dan lan-lain), dalam pembentukan kelompok, menggunakan contoh-contoh peristiwa/kejadian Islami, misalnya mewakafkan tanah dengan ukuran luas tertentu, kecepatan perjalanan ketika melakaukan sa’i dari Safa ke Marwa waktu ibadah haji, dan menggunakan benda-benda bernuansa Islam dalam membuat soal latihan misalnya himpunan kitab-kitab suci, himpunan masjid, dan sebagainya.

  1. 3.         Ilustrasi visual

Pada pembahasan materi Dimensi Tiga di kelas X, melalui layar In Focus guru menampilkan gambar Masjidil Haram, setelah itu guru memberikan arahan, “Anak-anak, saat ini banyak jamaah haji Indonesia sedang berada di Masjidil Haram, hari ini kita akan hitung berapa luas dan volum Ka’bah yang berada di Masjidil Haram.” Guru melanjutkan arahannya, “tolong kalian lihat gambar di depan, dan cermati angka-angka ukuran dari gambar tersebut”. Selanjutnya siswa yang sudah dikelompokkan sebelumnya berdiskusi menghitung luas dan volum Ka’bah.[8]

Alat-alat dan media pembelajaran dalam mata pelajaran matematika, divisualisasikan oleh guru dengan gambar-gambar atau potret yang Islami. Dalam membicarakan simetri dicontohkan ornamen-ornamen masjid atau musholla, dalam pembahasan bangun ruang menampilkan Ka’bah dan Al-Qur’an, dalam pembahasan bangun datar dicontohkan dengan luas sajadah, karpet, dan sebagainya.

  1. 4.         Aplikasi atau contoh-contoh

Dalam pembahasan tentang materi Statistika di kelas XI, guru matematika memberikan pertanyaan kepada siswa, “anak-anak, tolong kalian tentukan populasi dan sampelnya, jika ingin mengetahui berapa uang jajan santri Pesantren Hidayatullah dalam satu bulan?”. Salah seorang murid mengacungkan tangan dan berkata: “saya ustadz, populasinya adalah seluruh santri pesantren Hidayatullah, sedangkan sampelnya adalah siswa MA Hidayatullah”.

Dalam menjelaskan suatu kompetensi, guru matematika MA Integral Hidayatullah menggunakan bahan ajar dengan memberikan contoh-contoh aplikatif. Materi tentang uang dan perdagangan diterangkan dengan bantuan praktek bank syariah dengan sistem bagi hasil, atau praktik berdagang langsung seperti contoh di atas. Dalam pembahasan pecahan dikaitkan dengan pembagian harta warisan yang sesuai dengan pedoman dalam Al-Quran Surat An-Nisaa’ ayat 11-12.

  1. 5.         Menyisipkan ayat atau hadits yang relevan

Di kelas XI, berdasarkan pengamatan, peneliti melihat guru menampilakan ayat Al-Qur’an di layar InFocus,[9] saat itu materi yang sedang dibahas adalah operasi hitung bentuk akar pecahan, “baik anak-anak, sebelum membahas akar pecahan, apakah kalian masih ingat pelajaran pecahan waktu di SD atau di SMP?”, siswa menjawab: “Insya Allah ustadz!”, guru melanjutkan pertanyaan: “Bagaimana cara menghitung penjumlahan dan pengurangan bentuk pecahan?”, salah seorang siswa menjawab: “disamakan penyebutnya dulu”. “iya, betul sekali Ahmad, nah dalam penjumlahan dan pengurangan bentuk akar pecahan juga caranya sama, yaitu disamakan dulu penyebutnya”. Kemudian guru melanjutkan, “Ok, apakah kalian sudah belajar bab waris pada pelajaran Fiqh?”, siswa menjawab: “sudah ustadz”, kemudian guru menampilkan ayat 11 dan 12 surat An-Nisaa’ tentang tata cara pembagian warisan sebagai berikut:

ÞOä3ŠÏ¹qムª!$# þ’Îû öNà2ω»s9÷rr& ( ̍x.©%#Ï9 ã@÷VÏB Åeáym Èû÷üu‹sVRW{$# 4 bÎ*sù £`ä. [ä!$|¡ÎS s-öqsù Èû÷ütGt^øO$# £`ßgn=sù $sVè=èO $tB x8ts? ( bÎ)ur ôMtR%x. Zoy‰Ïmºur $ygn=sù ß#óÁÏiZ9$# 4 Ïm÷ƒuqt/L{ur Èe@ä3Ï9 7‰Ïnºur $yJåk÷]ÏiB â¨ß‰¡9$# $£JÏB x8ts? bÎ) tb%x. ¼çms9 Ó$s!ur 4 bÎ*sù óO©9 `ä3tƒ ¼ã&©! Ó$s!ur ÿ¼çmrO͑urur çn#uqt/r& ÏmÏiBT|sù ß]è=›W9$# 4 bÎ*sù tb%x. ÿ¼ã&s! ×ouq÷zÎ) ÏmÏiBT|sù â¨ß‰¡9$# 4 .`ÏB ω÷èt/ 7p§‹Ï¹ur ÓÅ»qム!$pkÍ5 ÷rr& AûøïyŠ 3 öNä.ät!$t/#uä öNä.ät!$oYö/r&ur Ÿw tbrâ‘ô‰s? öNßg•ƒr& Ü>tø%r& ö/ä3s9 $YèøÿtR 4 ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $¸JŠÎ=tã $VJŠÅ3ym ÇÊÊÈ * öNà6s9ur ß#óÁÏR $tB x8ts? öNà6ã_ºurø—r& bÎ) óO©9 `ä3tƒ £`ßg©9 Ó$s!ur 4 bÎ*sù tb$Ÿ2  Æßgs9 Ó$s!ur ãNà6n=sù ßìç/”9$# $£JÏB z`ò2ts? 4 .`ÏB ω÷èt/ 7p§‹Ï¹ur šúüϹqム!$ygÎ/ ÷rr& &úøïyŠ 4  Æßgs9ur ßìç/”9$# $£JÏB óOçFø.ts? bÎ) öN©9 `à6tƒ öNä3©9 Ӊs9ur 4 bÎ*sù tb$Ÿ2 öNà6s9 Ó$s!ur £`ßgn=sù ß`ßJ›V9$# $£JÏB Läêò2ts? 4 .`ÏiB ω÷èt/ 7p§‹Ï¹ur šcqß¹qè? !$ygÎ/ ÷rr& &ûøïyŠ 3 bÎ)ur šc%x. ×@ã_u‘ ß^u‘qム»’s#»n=Ÿ2 Írr& ×or&tøB$# ÿ¼ã&s!ur îˆr& ÷rr& ×M÷zé& Èe@ä3Î=sù 7‰Ïnºur $yJßg÷YÏiB â¨ß‰¡9$# 4 bÎ*sù (#þqçR%Ÿ2 uŽsYò2r& `ÏB y7Ï9ºsŒ ôMßgsù âä!%Ÿ2uŽà° ’Îû Ï]è=›W9$# 4 .`ÏB ω÷èt/ 7p§‹Ï¹ur 4Ó|»qム!$pkÍ5 ÷rr& AûøïyŠ uŽöxî 9h‘!$ŸÒãB 4 Zp§‹Ï¹ur z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒOŠÎ=ym ÇÊËÈ

11.  Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan[272]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua[273], Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

12.  Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika Isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika Saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)[274]. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.

 

[272]  bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah Karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. (lihat surat An Nisaa ayat 34).

[273]  lebih dari dua maksudnya : dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan nabi.

[274]  memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.

 

Ketika membahas tentang perniagaan dan perdagangan disisipkan. ayat 9 dan 10 surat Al-Jumu’ah sebagai berikut:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) š”ÏŠqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqtƒ ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó™$$sù 4’n<Î) ̍ø.ό «!$# (#râ‘sŒur yìø‹t7ø9$# 4 öNä3Ï9ºsŒ ׎öyz öNä3©9 bÎ) óOçGYä. tbqßJn=÷ès? ÇÒÈ #sŒÎ*sù ÏMuŠÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãÏ±tFR$$sù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.øŒ$#ur ©!$# #ZŽÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÊÉÈ

9.  Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.

10.  Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

 

[1475]  Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah azan di hari Jum’at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya.

Ketika membahas tentang sudut dan peta mata angin disisipkaan Al-Quran surat Al-An’Am ayat 96 tentang peredaran matahari dan bulan.

ß,Ï9$sù Çy$t6ô¹M}$# Ÿ@yèy_ur Ÿ@øŠ©9$# $YZs3y™ }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur $ZR$t7ó¡ãm 4 y7Ï9ºsŒ ㍃ωø)s? ͓ƒÍ•yèø9$# ÉOŠÎ=yèø9$# ÇÒÏÈ

96.  Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

  1. 6.         Penelusuran Sejarah

Ketika peneliti mengamati kelas XII, saat itu sedang membahas tentang Integral Trigonometri. Guru sedang menampilkan gambar Ibnu Jabir Al-Battani, sang penemu sinus dan kosinus dalam Trigonometri.[10] Melalui layar tersebut ternyata siswa sedang membaca sejarah bagaimana Sinus dan Kosinus ditemukan oleh Ilmuwan Muslim tersebut, siswa begitu antusias mendengar cerita dan melihat gambar-gambar yang ditampilkan guru.

Dalam penjelasan suatu kompetensi dasar, guru matematika sering menghubungkan dengan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan oleh sarjana muslim. Dalam pembahasan bilangan bulat, disampaikan sejarah singkat penemu bilangan nol oleh Al-Khawarizmi, pada penjelasan materi trigonometri dijelaskan sejarah penemuan sinus dan kosinus oleh Ibnu Jabbir Al-Battani, sebagaimana diceritakan di atas, sejarah penemuan rumus akar persamaan kuadrat atau terkenal dengan rumus abc dalam aljabar yang ditemukan oleh Al Khawarizmi, atau yang menemukan sebuah bilangan yang dapat dibagi oleh semua angka yang ditemukan oleh Ali bin Abu Thalib. Semua cerita dan sejarah penemuan tersebut, seringkali menjadi bumbu dalam setiap pembelajaran matematika di MA Integral Hidayatullah.

  1. 7.         Jaringan Topik

Pada pembahasan tentang Fungsi Persamaan Kuadrat di kelas XI, ada yang menarik peneliti, yaitu ketika guru matematika menampilkan gambar rantai makanan seperti dalam pelajaran Biologi, ayam makan padi, burung makan serangga, kerbau makan rumput dan sebagainya, padahal materi yang sedang dibahas saat itu adalah tentang Fungsi Kudrat.[11] Spontan saja para murid terheran-heran dan saling bertanya sesama temannya, apa gerangan yang akan dilakukan guru dengan gambar tersebut. Di tengah keheranan siswa, tiba-tiba guru mematikan layar InFocus, kemudian berkata: “Ok, dalam Biologi kalian mungkin sudah paham tentang rantai makanan, dalam matematika peristiwa itu bisa digambarkan dalam bentuk relasi dan fungsi, untuk lebih jelasnya lihatlah gambar berikut”. Kemudian guru kembali menyalakan InFocus, muncullah gambar berupa diagram panah yang menghubungkan kolom ‘nama hewan’ dengan kolom  ‘memakan’.

Hal menarik lain yang ditemukan peneliti pada pembelajaran fungsi, yaitu ketika guru mengaitkan relasi rantai makanan dengan rizki yang Allah berikan kepada semua mahluk yang Ia ciptakan. Guru berkata, ”anak-anak, tidak ada mahluk di dunia ini yang diciptakan Allah SWT, melainkan sudah disiapkan pula rizkinya, jalan untuk memperoleh rizki berbeda-beda tergantung kemampuan dan kapasitas mahluk tersebut, termasuk ketika harus memakan sesama hewan itu sendiri, itulah jalan yang Allah takdirkan”.

Guru matematika MA Integral Hidayatullah selalu mengaitkan matematika dengan topik-topik dalam disiplin ilmu lain. Misalnya dalam menjelaskan bahasan tentang relasi dikaitkan dengan rantai makanan dalam Biologi seperti cerita di atas, yang juga dikaitkan dengan rizki yang Allah berikan kepada segenap makhluk-Nya di muka bumi ini. Atau ketika menjelaskan tentang terbentuknya bangun ruang yang berasal dari bangun datar, bangun datar berasal dari sebuah garis, sebuah garis berasal dari sebuah titik yang akhirnya titik berasal dari sebuah zat yang diciptakan oleh Yang Serba Maha, yang sampai sekarang belum ada seorangpun yang mampu mendefinisikan sebuah titik, karena sebuah titik adalah rahasia Allah SWT.

8.         Melalui Simbol Ayat-ayat Kauniyah

Pada saat pembelajaran matematika materi Limit di kelas XI, siswa mempertanyakan arti dari lambang “∞” dalam proses pengerjaan soal limit. Siswa bertanya: “ustadz, apa artinya lambing “∞”?”. Guru kemudian menampilkan gambar dan keterangan dari lambang tersebut, “begini anak-anak, lambang “∞” dibacanya ‘tak terhingga’, artinya bilangan yang nilainya terlalu besar sehingga tidak bisa disebutkan angkanya”. Kemudian guru memberikan contoh perhitungan pembagian 4 : 4 = 1, 4 : 3 = 1,3, 4 : 2 = 2, 4 : 1 = 4, ketika sampai pada pembagian 4 : 0 , guru bertanya: “ayo, siapa yang tahu hasilnya berapa 4 : 0?”. Sementara waktu siswa terdiam, tiada yang berani menjawab, sampai akhirnya seorang siswa yang duduknya di tengah mengacungkan tangan, “hasilnya nol ustadz!”.[12]

Guru melanjutkan penjelasan gambar yang ada di layar, “jika jawaban kalian adalah nol, itu salah, coba perhatikan urutan hasil pembagian 4:4, angka 4 jika dibagi dengan bilangan mendekati 1, hasilnya pasti semakin besar, apalagi dibagi dengan nol yang lebih kecil dari 1 hasilnya pasti lebih besar lagi, bagaimana paham?”. Sebagian besar siswa manggut-manggut sambil berkerut, salah seorang siswa bertanya: “jadi, berapa hasilnya 4 : 0 ustadz?”, dengan diiringi senyum, guru kembali menyalakan layar InFocus, muncullah gambar pantai dan hamparan lautan biru yang indah. Saat itu, siswa semakin terperangah dan penasaran, apa maksud gambar pantai tersebut. Dengan tenang dan meyakinkan, sang guru kembali berkata: “kalian tahu pasir yang ada di pantai ini, ada berapa butir semuanya?”, semua siswa terdiam tidak ada yang menjawab. Akhirnya, di tengah keheningan sejenak salah seorang siswa berani mengacungkan tangan, “banyak sekali ustadz, tidak ada yang dapat menghitung jumlahnya”. Sambil tersenyum, guru berkata: “nah, itulah tak terhingga, artinya kemampuan manusia terbatas, tidak bisa menghitung jumlah pasir yang ada di pantai, sebagaimana juga sampai saat ini belum ada yang mampu menghitung hasil dari 4 : 0, yang dapat menjawab semua itu adalah ALLAH SWT, Yang Maha Mengetahui dan Maha Menciptakan”.

Begitulah gambaran pembelajaran Matematika di MA Integral Hidayatullah, Ketika mengajarkan tentang simetri putar misalnya, guru memberikan ilustrasi betapa teraturnya Allah menciptakan gerakan beredarnya bulan mengelilingi bumi dan bumi mengelilingi matahari, atau tentang rotasi bumi pada sumbunya. Ketika mengajarkan tentang bilangan tak hingga dikaitkan dengan banyaknya pasir di pantai atau berapa liter air laut di muka bumi ini atau berapa volume udara yang dihirup oleh makhluk hidup selama masih ada kehidupan di dunia ini.


Jan 25

Bahan Ajar Kls X

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Nama Sekolah             :        MA INTEGRAL HIDAYATULLAH

Mata Pelajaran            :        Matematika

Kelas / Semester        :        X (Sepuluh) / Ganjil

 

Standar Kompetensi   :

Memecahkan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar, dan logaritma.

Kompetensi Dasar :

1.1.       Menggunakan aturan pangkat, akar, dan logaritma.

Indikator :

1.    Menyederhanakan bentuk suatu bilangan berpangkat.

2.    Mengubah bentuk pangkat negatif dari suatu bilangan ke bentuk pangkat positif, dan sebaliknya.

3.    Mengubah suatu bilangan ke bentuk notasi ilmiah, dan sebaliknya.

4.    Mengidentifikasi apakah suatu bilangan termasuk bilangan rasional atau bilangan irrasional (bilangan bentuk akar).

5.    Melakukan operasi aljabar pada bentuk akar.

6.    Merasionalkan penyebut pecahan yang berbentuk akar.

7.    Mengubah bentuk akar ke bentuk pangkat, dan sebaliknya.

8.    Mengubah pangkat pecahan negatif menjadi pangkat pecahan positif.

9.    Menyelesaikan persamaan pangkat sederhana (persamaan eksponen) dengan bilangan pokok yang sama.

10.   Mengubah bentuk pangkat ke bentuk logaritma, dan sebaliknya.

11.   Melakukan operasi aljabar pada bentuk logaritma.

12.  Menentukan logaritma dan antilogaritma dari suatu bilangan dengan tabel yang bersesuaian (tabel logaritma atau tabel antilogaritma) atau kalkulator, serta menggunakan logaritma untuk perhitungan.

 

Alokasi Waktu            : 18 jam pelajaran (9 pertemuan).

Dasar Tauhid               : QS. Al-Hujurat : 6

 

A.     Tujuan Pembelajaran

 a.   Peserta didik dapat menyederhanakan bentuk suatu bilangan berpangkat.

b.   Peserta didik dapat mengubah bentuk pangkat negatif dari suatu bilangan ke bentuk pangkat positif, dan sebaliknya.

c.   Peserta didik dapat mengubah suatu bilangan ke bentuk notasi ilmiah, dan sebaliknya.

d.   Peserta didik dapat mengidentifikasi apakah suatu bilangan termasuk bilangan rasional atau irrasional (bilangan bentuk akar).

e.   Peserta didik dapat melakukan operasi aljabar pada bentuk akar.

f.    Peserta didik dapat merasionalkan penyebut pecahan yang berbentuk akar.

g.   Peserta didik dapat mengubah bentuk akar ke bentuk pangkat, dan sebaliknya.

h.   Peserta didik dapat mengubah pangkat pecahan negatif menjadi pangkat pecahan positif.

i.    Peserta didik dapat menyelesaikan persamaan pangkat sederhana (persamaan eksponen) dengan bilangan pokok yang sama

j.    Peserta didik dapat mengubah bentuk pangkat ke bentuk logaritma, dan sebaliknya.

k.   Peserta didik dapat melakukan operasi aljabar pada bentuk logaritma.

l.    Peserta didik dapat menentukan logaritma dan antilogaritma dari suatu bilangan dengan tabel yang bersesuaian (tabel logaritma atau tabel antilogaritma) atau kalkulator, serta menggunakan logaritma untuk perhitungan.

 

 B.      Materi Ajar

a.   Sifat-sifat bilangan berpangkat dengan pangkat bulat positif, pangkat bulat negatif, dan nol.

b.   Notasi ilmiah.

c.   Bilangan rasional.

d.   Bilangan irrasional (bilangan bentuk akar).

e.   Operasi aljabar pada bentuk akar.

f.    Merasionalkan penyebut pecahan bentuk akar.

g.   Pangkat rasional:

–     Bilangan berbentuk  atau  untuk  dan himpunan bilangan asli.

–     Mengubah pangkat pecahan negatif menjadi pangkat pecahan positif.

–     Persamaan pangkat sederhana dengan bilangan pokok sama.

h.   Pengertian logaritma.

i.    Sifat-sifat logaritma (operasi aljabar logaritma).

j.    Penentuan logaritma dan antilogaritma dengan tabel atau kalkulator.

k.   Logaritma untuk perhitungan.

 

C.     Metode Pembelajaran

Ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok.

        

D.     Langkah-langkah Kegiatan

Pertemuan Pertama

Pendahuluan

Apersepsi   :  Mengingat kembali beberapa jenis bilangan dan penulisannya.

Motivasi     :  Apabila materi ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik akan terbantu dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan bilangan berpangkat bulat positif, negatif, dan nol, juga terbantu dalam menyederhanakan penulisan bilangan dengan notasi ilmiah.

 

Kegiatan Inti

a.   Peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru (selain itu misalkan dalam bentuk lembar kerja, tugas mencari materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan lingkungan, atau pemberian contoh-contoh materi untuk dapat dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb) mengenai cara menyederhanakan bentuk suatu bilangan berpangkat, mengubah bentuk pangkat negatif dari suatu bilangan ke bentuk pangkat positif, dan sebaliknya, serta mengubah suatu bilangan ke bentuk notasi ilmiah, dan sebaliknya, kemudian antara peserta didik dan guru mendiskusikan materi tersebut.

b.   Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan sifat-sifat bilangan berpangkat bulat positif atau negatif, cara menyederhanakan bentuk suatu bilangan berpangkat, mengubah bentuk pangkat negatif dari suatu bilangan ke bentuk pangkat positif, dan sebaliknya, serta mengubah suatu bilangan ke bentuk notasi ilmiah, dan sebaliknya.

c.   Peserta didik dan guru secara bersama – sama membahas contoh dalam buku paket mengenai pengubahan bentuk pangkat negatif dari suatu bilangan ke bentuk pangkat positif, dan sebaliknya, serta mengenai cara menyatakan suatu bilangan yang sangat besar atau sangat kecil ke dalam bentuk notasi ilmiah.

d.   Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai penyederhanaan bentuk suatu bilangan berpangkat, pengubahan bentuk pangkat negatif dari suatu bilangan ke bentuk pangkat positif, pengubahan suatu bilangan ke bentuk notasi ilmiah, dan sebaliknya, penentuan hasil operasi aljabar bilangan dalam notasi ilmiah, serta pengurutan bilangan dalam notasi ilmiah dari yang terkecil hingga yang terbesar, dari “Aktivitas Kelas“ dalam buku paket sebagai tugas individu.

e.   Peserta didik dan guru secara bersama – sama membahas jawaban soal-soal dari “Aktivitas Kelas” dalam buku paket.

f.    Peserta didik mengerjakan beberapa soal latihan dalam buku paket sebagai tugas individu.

 

Penutup

a.   Peserta didik membuat rangkuman dari materi bilangan berpangkat bulat positif, negatif, dan nol dengan sifat-sifatnya, serta notasi ilmiah.

b.   Peserta didik dan guru melakukan refleksi.

c.   Peserta didik diberikan pekerjaan rumah (PR) berkaitan dengan materi bilangan berpangkat bulat positif, negatif, dan nol dengan sifat-sifatnya, serta notasi ilmiah dari “Aktivitas Kelas“ yang belum terselesaikan di kelas atau dari referensi lain.

 

 

Memeriksa / Mengetahui

Kepala Sekolah

Lalu Mabrul, S.Pd.I

NIP. ………………………

Depok, 25 Juli 2012

Guru Mata Pelajaran

Iwan Ruswanda, S.Ag

NIP. ……………………..

Jan 25

Logika Matematika

4. LOGIKA MATEMATIKA

 

A.        Negasi (Ingkaran)

Negasi adalah pengingkaran terhadap nilai kebenaran suatu pernyataan. ~ p : tidak p

p

~ p

B

S

S

B

B.         Operator Logika

1)      Konjungsi adalah penggabungan dua pernyataan atau lebih dengan operator “dan”.

p Ù q : p dan q

2)      Disjungsi adalah penggabungan dua pernyataan atau lebih dengan operator “atau”.

p Ú q : p atau q

3)      Implikasi adalah penggabungan dua pernyataan dengan operator “Jika …, maka …”.

p Þ q : Jika p maka q

4)      Biimplikasi adalah penggabungan dua pernyataan dengan operator “… jika dan hanya jika …”

p Û q : p jika dan hanya jika q

 

C.        Nilai Kebenaran Konjungsi, Disjungsi, Implikasi, dan Biimplikasi

premis 1

premis 2

konjungsi

disjungsi

implikasi

biimplikasi

P

q

p Ù q

p Ú q

p Þ q

p Û q

B

B

B

B

B

B

B

S

S

B

S

S

S

B

S

B

B

S

S

S

S

S

B

B

 

Kesimpulan: perhatikan nilai kebenaran yang tercetak tebal

1) Konjungsi akan bernilai benar (B), jika kedua premis benar,

2) Disjungsi akan bernilai salah (S), jika kedua premis salah

3) Implikasi akan bernilai salah (S), jika premis sebelah kiri benar (B) dan kanan salah (S)

4) Biimimplikasi akan bernilai benar (B), jika premis kiri dan kanan kembar

Nov 30

Halo MAHID….!

Selamat datang di Pelatihan dan Workshop IT FKGS Depok, Hotel Indra Jaya Cipayung Puncak, 25 Januari 2013.